HPP โ Harga Pokok Produksi / Pembelian
Total biaya yang dikeluarkan untuk membuat atau membeli satu unit
produk. Ini adalah "modal dasar" per produk sebelum kamu bisa mulai untung.
Contoh: bahan baku Rp 2.000 + kemasan Rp 500 + ongkos produksi Rp 200 = HPP Rp 2.700 per pcs
Margin / Keuntungan Kotor per pcs
Selisih antara harga jual dan HPP. Ini keuntungan yang kamu dapat dari setiap
produk terjual, sebelum dikurangi biaya operasional bulanan.
Contoh: Harga jual Rp 5.000 โ HPP Rp 2.700 = Margin Rp 2.300 per pcs
Biaya Operasional (Biaya Tetap / Overhead)
Pengeluaran rutin per bulan yang harus dibayar terlepas dari berapa
produk yang terjual. Kalau kamu tidak jualan sekalipun, biaya ini tetap ada.
Contoh: sewa toko Rp 500.000, listrik Rp 100.000, gaji karyawan Rp 2.000.000 โ total Rp 2.600.000/bulan
Omzet (Pendapatan Kotor)
Total uang masuk dari semua penjualan. Ini BUKAN keuntungan โ belum
dikurangi modal maupun biaya apapun. Omzet besar belum tentu untung besar!
Contoh: 100 pcs ร Rp 5.000 = Omzet Rp 500.000. Tapi modal 100 pcs = Rp 270.000, jadi untung kotornya Rp 230.000.
Laba Kotor
Omzet dikurangi total HPP (modal semua produk yang terjual).
Ini keuntungan sebelum dikurangi biaya operasional.
Laba Kotor = Total Omzet โ Total HPP
Laba Bersih (Keuntungan Sesungguhnya)
Keuntungan setelah semua biaya dikurangi. Inilah uang yang
benar-benar "masuk kantong" atau bisa kamu simpan / reinvestasikan.
Laba Bersih = Laba Kotor โ Biaya Operasional
BEP โ Break Even Point (Titik Impas)
Jumlah produk minimum yang harus terjual agar kamu tidak untung dan
tidak rugi. Jual di bawah BEP = rugi. Jual di atas BEP = mulai untung.
Rumus: BEP = Total Biaya Ops รท Margin per pcs
Contoh: Rp 2.700.000 รท Rp 2.300 โ 1.174 pcs/bulan = ~45 pcs/hari (26 hari kerja)